Rabu, 03 Januari 2018

Semua Atas Izin Allah

Aku rindu padamu, aku bahkan sangat merindukannya, tatapan hangat dan mendalam bagai sinar yang memancarkan cahaya-cahaya cinta dari kedua bola matamu yang tak pernah ku lupakan sepanjang masa, hari-hari yang selalu kita lalui bersamaan sekarang tiada pernah ku rasakan kembali tapi ku berharap itu kan dapat terulang kembali di kemudian hari bahkan jauh lebih indah dari sebelumnya, pertemuan kita yang pertama kali membuatku selalu terbayang akan indahnya dirimu teringat jelas nama dan bayangan semu dimemoriku, kenang-kenangan indah yang pernah kita rasakan walaupun sekejap seperti menggenangi raga ini, di setiap sudut sekolah memiliki cerita tentang kita berdua, jujur aku merindukan itu semua.
 Kau yang ku nantikan dari dulu, hanya dirimu yang ku mau, terimakasih sudah menjadi sebagian kecil namun indah dalam hidupku, tetapi disisi lain aku juga takut apa yang aku harapkan itu tidak akan berubah menjadi kenyataan, itu semua cuma bayangan semu, tapi tiada lelah untai demi untai kata ku tuturkan kepada sang pencipta yaitu Allah SWT, karena ku yakin tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini jika Allah  berkehendak, aku yakin dengan itu semua, Allah maha membolak-balikan hati manusia, bisa jadi untuk saat ini perasaanmu biasa-biasa saja akan tetapi kita tidak pernah tau dengan hari esok apakah perasaanmu tetap sama atau sudah berubah. Jodoh, takdir,  maut kita tidak lah pernah tau hanya Allah  yang tau karena ia yang menentukan semuanya dan semuanya sudah di atur oleh allah, kita hanyalah manusia biasa yang tiada bandingan apa-apa.
 Di setiap apa yang terjadi tidak ada yang kebetulan begitu pula dengan pertemuan kita aku yakin Allah merencanakan sesuatu yang indah di balik pertemuan kita ini, tetapi kita juga jangan bangga dengan pertemuan karena di balik kata pertemuan ada kata perpisahan, iya perpisahan juga akan terjadi lambat ataupun cepat kita hanya bisa bersiap-siap dan menerima semua itu karena pada hakikatnya setiap yang bernyawa akan kembali kebada-Nya.

Senin, 01 Januari 2018

Tanah Perantauan

PERANTAUAN MENGAJARKANKU

Aku dulu mungkin bisa tertawa dengan sesuka hatiku
Pergi kemana saja tanpa mengenal waktu
Menyia-nyiakan kebersamaan yang ada di tempat ternyaman yaitu rumah
Akan tetapi ketika berada di tempat yang jauh yaitu tanah perantauan
Aku? Iya aku baru menyadari semuanya
Banyak hal-hal baru yang kutemui
Banyak yang dapat aku pelajari disini
Dari perantauan aku bisa lebih menghargai kebersamaan
Dari perantauan aku tau apa arti kerinduan yang sesungguhnya
Tangis dan tawa selalu mengiringi
Ketika tangis menyelimuti hanya sang kuasa mengetahui
Ketika tawa sedang bergema keluarga tak pernah ku lupa

~Melvi Fitriani~

Awal Langkah Menuju Kedewasaan

Ketika masa SMA ku sebentar lagi akan berakhir disanalah titik kedewasaanku telah di mulai, aku harus bisa mandiri menjalankannya dengan sendiri tanpa didampingi orang-orang yang aku sayangi seperti orangtua, keluarga, sahabat. Aku tanpa mereka harus bisa dan harus membuktikan bahwa aku benar-benar bisa, dan bagi yang telah banyak menghina, meremehkan bahkan mengucilkanku aku jangan membalas perbuatannya karena jika di balas aku tiada berbeda dengan mereka. Cukup diam lalu tersenyum dan berdoa kepada sang maha kuasa,  karena yakinlah setiap perbuatan pasti ada balasan, yang terpenting aku jangan pernah sedikitpun berbuat jahat kepada orang lain. Aku harus tetap baik, ramah, mudah tersenyum dengan siapapun, aku harus membuktikan bahwa aku mampu untuk sukses apalagi sukses di usia muda bahkan semuda mungkin(AMIN), menjadi panutan bagi setiap insan,  menjadi wanita berakhlakul karimah/wanita shalihah, dan aku juga tidak akan pernah melupakan setiap kebaikan yang telah kebanyakan orang berikan kepada diriku,  apalagi kebaikan dari keluargaku, terutama ibu dan ayahku yang telah mampu membesarkan, merawat serta mendidiku sehingga aku tumbuh besar seperti sekarang, terimakasih atas kasih sayang yang telah engkau berikan kepada anak-anakmu, engkau teladan bagiku, kau malaikat dalam hidupku, akan tetapi maafkanlah pula aku jika aku belum mampu menjadi anak yang benar-benar baik, aku yang terkadang masih suka berbuat salah kepada ayah ibu tetapi jujur tidak pernah terlintas dalam hatiku jika aku ingin melukai hati ayah ibu, terkadang aku tak sengaja berbuat kesalahan, maka dari itu maafkan lah anakmu ini ayah ibu, aku janji akan menaikan derajat kalian, aku akan membanggakan kalian, aku akan menjadi anak yang berbakti, suatu saat akan aku buktikan dengan nyata bukan hanya sekedar kata yang tertulis, doakan aku selalu ayah ibu doa restumu begitu berarti bagiku, tanpa kalian apalah aku, I Love You Dad And Mom.

~Melvi Fitriani~